Immigration To Canada
Canada has many faces. It is a trading nation-one of the world's richest markets.
www.lastsee.com

Pemuda dan Malaikat Maut

Malaikat maut telah berada di dalam kamar seorang pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya. Lelap sekali terlihat, sepertinya tengah dia merengkuh mimpi malamnya bersama para bidadari dari kahyangan. Air liur yang menetes di sisi bibirnya telah membasahi bantal.

“Wahai, Anak muda! Bangunlah!”seru sang Malaikat maut. Tapi seruan itu sama sekali tidak terdengar oleh pemuda kerempeng berambut keriting itu. Ia masih lelap memeluk gulingnya.

“Bangunlah, Anak muda!” seru Malaikat Maut sekali lagi. Dan kali ini Sang Malaikat Maut berhasil membuat Pemuda itu merubah posisi tidur, menjadi terlentang melepas pelukannya pada guling.

“BANGUUUUUNN….!!”

Dan akhirnya seruan terakhir yang keras itu telah membuat Pemuda itu melompat dari tidurnya dalam terkejut. Membuka matanya yang penuh dengan belek, sambil celingukan bingung. Ada apa ini?..Ada apa ini?... Pada saat pandangan matanya yang masih samar-samar menangkap keadaan sekitar. Ia seolah melihat satu sosok hitam di hadapannya. Dikucek-kucek matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya. Dan setelah itu…

Tubuhnya meloncat mundur, merapatkan tubuh pada tembok kamar dalam ketakutan.

“Si-siapa kamu?!”tanya pemuda itu kepada sosok yang berada dihadapannya.

“Aku Malaikat Maut yang akan mencabut nyawamu hari ini” jawab Sosok itu.

Mendengar hal itu, rasa takut dalam diri pemuda itu berangsur surut. Bahkan dengan santai, sambil menyeret tubuhnya dalam posisi duduk. Menuju ketepi ranjang, menurunkan kedua kakinya dilantai, lalu bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah santai melewati sosok Malaikat maut menuju meja dan meraih gelas kopi sisa semalam.

“Ada keperluan ape ente dateng?” tanya pemuda itu sambil mulutnya berada di bibir gelas itu.

“Aku akan mencabut nyawamu sekarang. Bersiaplah..” jawab Malaikat Maut.
“O-oh.. sekarang?”

Malaikat Maut menganggukan kepala. Masih dengan sikap santai Pemuda itu kembali melewati Sosok Malaikat Maut, dengan gelas kopi di genggam. Kembali duduk di tepi ranjang. lalu berkata,“ Tar aja deh, gua masih pengen hidup. Karena hidup gua masih berantakan”

“Tidak bisa!!”

Pemuda itu terkejut karena nada suara sang Malaikat Maut yang begitu tinggi, tapi bukan karena ketakutan mendengar ucapan Malaikat maut.

“Enak aja ente! Gua gak terima!’ kini Pemuda itu yang menaikan nada suaranya sambil berdiri berhadap-hadapan dengan sang Malaikat.

“Tidak ada yang bisa melawan takdir! Jika Tuhan sudah berkehendak, semua pasti terjadi. Tidak juga pada engkau! Tidak akan ada pengecualian!” Malaikat membalas ucapan sang Pemuda.

Pemuda itu menghampiri meja lagi, dan meletakan gelas dengan keras di atasnya.

“Gak bisa! Bilang sama Tuhan, gua gak minta dilahirin kedunia ini. Gua juga gak minta diberi tugas-tugas berat yang harus gua jalanin dikehidupan ini. Dan gua gak terima! Tuhan bersikap sewenang-wenang atas hidup gua!”

“Terkutuklah kau sebagai manusia! Neraka ada tempat yang pantas untukmu!!” Suara Malaikat Maut kembali meninggi.

Tapi pemuda itu malah tersenyum sinis kepada Malaikat Maut,”Huh! Enak aja. Ente jadi malaikat enak. Tinggal ngejalaninn perintah. Sedang gua harus berfikir keras dalam menjalani kehidupan ini. Berperang dengan diri gua sendiri. Merasakan pahit manis kehidupan ini. Jangan asal ngomong ente!”

Malaikat Maut terdiam. Baru kali ini ia berhadapan dengan manusia bebal lagi membangkang. Biasanya banyak orang yang ketakutan saat ia datang kepada mereka.

“Apa yang engkau inginkan?!”

Pemuda itu terkekeh, merasa menang dalam perdebatan ini.

“Baiklah, sampein sama Tuhan. Jika memang Tuhan Maha Berkehendak. Gua pengen kehidupan gua dirubah dari awal. Biar hidup gua gak ancur berantakan seperti sekarang ini.”

“Apa maksudmu, Anak muda?!”

Pemuda itu kembali tersenyum penuh kemenangan.

“Bilang sama Tuhan, hidup gua yang ancur berantakan ini karena Tuhan telah melahirkan gua ke dunia ini dalam kondisi hidup yang serba susah. Wajar kalau gua gak terima, jika saat ini gua harus mati sebelum gua meraih apa yang gua pengen. Kawin aja belom?!” ucap pemuda itu kemudian sedikit sewot.

“Apa yang harus aku sampaikan kepada Tuhan?!”

“Bilang, kalo dulu gua lahir dari rahim ibu yang kampungan dan bapak yang cuma kuli pasar. Gua pengen gua di lahirin lagi dari rahim Ibu gua yang seorang artis kondang, dan Bapak seorang pengusaha sukses lagi terkenal di negeri ini”

“Itu saja?”

“Masih banyak lagi. Gua pengen lahir sebagai manusia yang pintar, cerdas dan disukai semua orang. Dan sudah pasti akan mewarisi kekayaan Bapak gua itu. Menikahi seorang artis terkenal yang paling cantik di negeri ini. lalu mempunyai anak-anak yang juga cantik dan ganteng-ganteng.”

“Itu saja?”

“eh, masih ada lagi. Tolong rubah wajah gua yang ancur ini menjadi sosok pemuda yang ganteng dan penuh kharisma. Yang membuat orang suka dan mencintai diri gua”

“Ada lagi?”

“Masih ada. Gua juga pengen jadi orang yang punya banyak bakat, selain bisa menyanyi, melukis, menguasai teknologi, menguasai semua bahasa didunia ini, jago menulis dan merangkai puisi.”

“Itu saja?”

“Hmm….” Pemuda itu mulai berfikir keras. Mencari-cari segala hal yang di anggap gagal dalam kehidupannya sekarang ini, sebagai seorang pengangguran sejati, jomblo sejati dan sering dilecehkan oleh hampir semua orang, terutama perempuan.
“Gua pikir, segitu aja dulu” ucap pemuda itu kemudian.

“Baiklah..”

Pemuda itu tertawa senang, membayangkan semua keinginannya akan segera terkabul. Kehidupannya akan segera berubah. Jauh berbeda dari kondisi hidupnya yang sekarang.

“Bersiaplah..” ucap Malaikat itu tiba-tiba. Pemuda itu segera memejamkan mata karena dia pikir semua keinginannya itu terkabul.

“Sudah…” terdengar ucapan Malaikat itu.

Pemuda itu membuka matanya. Tapi… betap terkejutnya Pemuda itu saat melihat dirinya telah berpisah dengan jasadnya yang telah tergeletak dilantai.

“Apa-apaan, nih?!” seru pemuda itu marah.

“Sudahlah..ikut saja denganku”

“Gak bisa! Gua gak mau! Tadi lo bilang akan mewujudkan semua keinginan gua itu!” Pemuda itu menolak.

“Aku tidak pernah berkata demikian kepadamu. Aku hanya bertanya kepadamu, apa yang kau inginkan tanpa berjanji akan mewujudka semua itu kepadamu”

“Tapi gua minta ente untuk menyampaikan semua keinginan gua itu ke Tuhan!”

“Seperti kamu bilang tadi, Pemuda. Aku hanya menjalani perintah dari Tuhan. Bukan darimu”

“Gak bisa!! Gua gak terima!!!”

“Berisik amat, sih?! Udeeeeh ikut aja. Lo bisa apa sekarang?!” Malaikat mulai kesal dengan tingkah pemuda itu.

“Gua gak terima ente dah bohongin gua!! Gak terima!!”Pemuda itu masih membandel meski dirinya kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Halah! Sekali-kali nyenengin orang yang mau mati. Gak ada salahnya juga kaleeee…!!”

Setelah berkata demikian Malaikat itu mencengkram tangan Pemuda itu, lalu menyeretnya untuk ikut terbang menuju angkasa. Sementara pemuda itu terus meronta-ronta tanpa bisa melepaskan diri.

“TIDAAAAAAAAAKKKK……..!!!!”

Kini Malaikat Maut yang tersenyum penuh kemenangan.

 


Tags : pemuda

Cawan Hidup

 

Ada masa dimana kebahagiaan dalam cawan itu, kita reguk lupa hingga tak bersisa. Sedangkan kesedihan yang kita tuang, meluber melewati batas tampung cawan itu. Lalu membasahi wajah dengan airmata. Tapi diantaranya, gelembung-gelembung hampa menjadi bagian dari setiap tetes rasa yang kita tuangkan kedalam cawan.

Tak terhindarkan, bahkan pada cawan yang  kita reguk habis indahnya itu. Hampa berkuasa pada ketiadaan yang kosong. Dan seketika kehidupan penuh erangan jiwa-jiwa gelisah. Apa pernah kau dengar itu? Saat berada didalam bis kota yang penuh dengan manusia yang saling berdesakan, erangan itu terdengar. Hanya melukis wajah yang termenung  menatap jalan dari balik kaca bis kota itu.

Atau di dalam keramaian pasar, supermarket dan mall. Erangan itu pun terdengar lirih dalam bising suasana yang ada. Melepas hasrat dalam rupa gambar tentang keinginan-keinginan dan hayalan, berdiri di depan etalase toko, termenung di setiap kedai makan. Apakah kau dengar itu?.

Jika sejenak saja, kau berkenan untuk melihat tempat-tempat yang pernah aku singgahi. Disana telah banyak aku lukis tentang semua erangan itu. Menggambar setiap wajah yang diam termenung. Aku merabanya kedalam hatiku sendiri. Membuat bayangan diantara mereka. Menjadi cermin yang sama, melukiskan kenyataan tentang diri.

Aku bersama seseorang di dalam bis kota, pernah melukis kebahagiaan dua hati yang baru saja  saling mengenal. Menghabiskan waktu demi waktu, sebisa mungkin selalu bersama. Dimana ada dirinya, disitu pula ada aku. Aku mencumbunya dengan jemari yang menggenggam erat jemari tangannya, aku mengecup dirinya dalam senyum bahagia akan kebersamaan yang ada. Kami bersetubuh dalam ruang dan waktu berdua, dalam nuansa penuh bunga-bunga. Diantara banyak manusia dalam bis kota ini. Tapi serasa hanya ada aku dan dia disana.

Aku juga pernah melukisnya di sebuah kedai makan, sudut-sudut kursi penonton sebuah bioskop. Supermarket, taman, pantai dan masih banyak lagi tempat-tempat itu. Tapi kini, sebagaimana telah aku katakan, semua hanya meninggalkan erangan dari jiwa yang terluka dan merasa sepi.

Semua kebahagiaan yang telah aku reguk habis dari cawan itu, menciptakan banyak hampa didalam hati kami berdua. Hingga pertengkaran, perdebatan dan caci maki senantiasa mengisi kehampaan itu. Merubahnya kembali, menjadi tetesan airmata yang senantiasa jatuh atas rasa sakit yang kami rasa pada akhirnya. Demikianlah erang-erangan itu mulai terdengar setiap saat. Mencari semua kenangan dalam banyak lukisan yang aku buat di semua tempat itu. Membawa banyak tanya dan juga rasa sesal,

Tutup matamu sejenak, lalu jadikan indera telingamu menjadi mata yang menangkap semua erangan dan rintihan itu. Aku yakin kau akan menemui sebagaimana juga diriku. Atau kau coba berdiri di depan cermin. Tatap lekat-lekat dirimu di dalam cermin itu, adakah kau dengar erangan itu kemudian? Bersyukurlah jika kau tidak mendapatkannya.

Kini aku selalu mencoba bersembunyi dengan menutup kedua telingaku, menghindari suara erangan dan rintihan itu. Yang kini mulai mengganggu kehidupanku. Setiap saat erangan itu semakin keras terdengar, hampir di setiap sisi kehidupan yang aku jalani. Ketika aku berteriak? Mereka sama sekali tidak berhenti.

Wajah-wajah termenung itu semakin sering aku temui. Erangan itu terkadang berubah menjadi tangisan yang memilukan hati ini. Aku tak kuasa untuk terus menerus mendengar semua itu. Aku berharap bisa tertawa lepas sebagaimana mereka tertawa, tapi dalam tawa mereka pun, aku masih mendengar erangan itu. Dan juga dalam senyuman yang terkembangkan. Bukan hanya dalam diam mereka!

Seberapa jauh keinginan dan harap itu sebenarnya, bisa membuat jiwa-jiwa itu merintih dan mengerang? Bukankah dalam hidup kita harus memiliki semua keinginan dan harapan itu? lalu mengapa semua itu membawa jauh hati setiap manusia tenggelam dalam sepi sendiri menunggu semua terwujud? Sabar dalam penantian waktu datangnya. Tapi lelah dirasa dalam rentang waktu itu sendiri.

Aku tidak mampu menghindari semua erangan itu. wajah-wajah letih semakin berharap pada kesemuan. Pergi pada sisi sepi malam melepas imaji, melukis rupa rasa dalam merintih. Meraih yang paling mungkin dari setiap doa yang dilepas. Meski hampa selalu berselang hadir dalam setiap helaan nafas. Menciptakan erangan itu, lalu jatuh pada tangis.

Cobalah untuk kau dengar semua itu. Karena aku mendengarnya keluar dari dalam diriku sendiri.

 

 

 

 


Orang Gila

Wajah lelaki itu tengadah, memandang langit sambil bibirnya komat-kamit seolah mengucap mantra yang hanya bisa didengar dan dipahami oleh para setan dan anak jin. Matanya berkaca-kaca dalam bergetar kedua bibir yang mengucap itu. Ada yang hilang dia rasa. Hatinya. Kesadarannya. Yang telah lama terenggut dari dirinya.

Kini dirinya seperti mayat hidup, yang menjalani hidup tanpa rasa. Kosong. Hampa mati. Terkulai di pinggir trotoar memandang langit. Kesadarannya timbul tenggelam. Suara-suara yang hinggap ditelinga adalah gelak tawa mengejek, teriakan mencaci, menghujat, dan juga suara tangisan yang memilukan hati.

Debu yang beterbangan jatuh merebah di tubuhnya, setelah lelah berputar-putar di udara dihempas angin kesana kemari. Apa yang dicari oleh Lelaki itu? Tatap mata itu kosong. Bola matanya  bergerak cepat seolah mengikuti kilasan cahaya yang melintas di hadapannya. Ah, gila mungkin. Mungkinkah?

Panas mataharai yang terik, membakar kulit tubuhnya menjadikan hitam legam. Membuat rambutnya yang gimbal semakin memerah. Dipinggir trotoar mencoba bersembunyi dari terik matahari, dan bibirnya kini seolah  tengah memaki sang matahari. Yang menjadi musuh utama bagi sebagian orang dalam kehidupan. Jari telunjuknya menunjuk ke arah langit. “Aku Tuhanmu, seharusnya kau tunduk kepadaku!”

Asap hitam yan keluar dari knalpot kendaraan yang hilir mudik di depannya, dihirup dalam-dalam, Seolah tengah menikmati asap tembakau yang sekian lama tak pernah bisa dinikmati lagi. Lalu bersimpuh menyembah semua kendaraan yang lewat, mengucap syukur atas anugerah asap yang telah diberikan. “Terima kasih..terima kasih..”

Dunia miliknya seorang, dengan peran diri sesuai dia ingin.

“Aku adalah seorang Raja! Kalian ada rakyat yang tidak tahu diri!”

Menjadi seorang Raja yang menguasai Negeri yang entah bernama apa, jauh Negeri dari mimpi atau hayalan. Bukan pula Negeri dongeng, hanya Negeri yang ia ciptakan sesuai bisikan di kepalanya.

“Aku adalah seorang Direktur! Lihat mobil dan rumahku itu! Hartaku banyak! Uang berlimpah dan tersimpan di Bank-bank di seluruh dunia. Dan kalian?! Orang miskin yang akan tetap menjadi miskin!”

Menjadi seorang Direktur, yang memiliki kekayaan berlimpah yang tak akan habis sampai tujuh turunan. Pemilik perusahaan besar, yang entah bergerak dalam bidang apa. Semua terlintas ketika sepi mendera dalam banyak bayang yang melintas.

Sahabatnya hanyalah bayangannya sendiri, yang selalu menemani waktu-waktu yang dia lewati. Membahas persoalan hidup yang tak lagi dia jalani, memperdebatkan tentang jalannya perekonomian dalam lusuh diri, berkeluh kesah tentang keluarga yang jelas-jelas tidak dimilikinya lagi. Dan bayangan itu selalu memeluk kesepian dirinya dalam kehidupan ini.

Tak ada yang tahu, bagaimana rasa di dalam hatinya. Karena semua seperti hembusan angin yang setiap saat mampu berhembus kencang, ataupun hilang sama sekali. Tak perduli betapa teriknya matahari memancarkan sinarnya, ia akan menangis jika ingin menangis. Tak perduli sepi, dia akan tertawa ketika ingin tertawa, tak perduli riuh suasana yang ada, dia akan diam jika ingin diam.

Bahkan seperti loncatan gelombang listrik yang tak beraturan, ia akan tertawa sekali dan dengan cepat menangis sekali, lalu menjerit memaki dan kemudian diam sama sekali, sepi.

“Ayah dan Ibuku telah meninggalkan aku, itu karena Tuhan membenciku!!! Aku hidup dalam gelimang harta yang tak pernah habis, karena perusahaan yang aku miliki maju pesat. Tapi anakku mati over dosis! Itu karena Tuhan membenciku!!! Dan karena kekayaanku itu, banyak partai yang menginginkan aku menjadi anggota mereka. Akupun berhasil menjadi anggota DPR. Tapi istriku selingkuh!! Itu karena Tuhan membenciku!!! Aku frustasi, sering mabuk-mabukan dan main perempuan, juga jadi suka korupsi. Tapi KPK menangkapku!! Itu karena Tuhan membenciku!!! Huahahahaha…..!!!”

Seolah hidup begitu kelam yang menjadikan dirinya demikian, meninggalkan kesadaran akan kenyataan. Berlari menjadi pengikut bisikan-bisikan yang senantiasa mencaci, memaki, dan menghujat dirinya. Tak jarang tangisan, suara jeritan, dan bahkan sepi menjadi riuh musik dalam sebuah pesta pora. Lalu akan terdengar cerita yang berbeda dari tangisannya untuk kemudian mencaci, lalu tertawa lagi.

Tapi siapa yang tahu, cerita hidupnya yang sederhana, yang sebenarnya telah menjadikan dirinya demikian. Seorang lelaki yang begitu mencintai kekasihnya, dan hampir menikah. Namun, ketika dia terpaksa menganggur karena kantor tempatnya bekerja tidak membutuhkan tenaganya lagi. Dipecat tanpa dibekali pesangon atau uang sebagai tanda ucapan terima kasih atas pengabdiannya selama bekerja. Dalam rasa frustasi dan kebingungan, dia mendapati tunangannya selingkuh dengan orang lain. Lalu membatalkan pernikahan mereka.

Lelaki itu,bukanlah seorang Raja dari Negeri tanpa nama, bukan pula seorang Direktur dari sebuah perusahaan yang entah bergerak dalam bidang apa, bukan pula seorang kaya yang menjadi anggota DPR yang di tangkap KPK. Tidak pula ia memiliki anak yang over dosis atau istri yang selingkuh. Tidak semua itu..

Tapi sekarang, ia miliki semua itu. Dalam dunia miliknya, dengan peran diri sesuai ingin.


Tags : orang

Anda Besok Akan Mati!

Anda besok akan mati!. saya katakan dengan pasti hal ini kepada anda.

Akh, anda tertawa. Menertawakan apa yang baru saja saya katakan pastinya. Tidak apa. Memang kedengarannya hal ini konyol dan sedikit lucu. Dan sudah pasti anda juga tidak akan percaya. Mati?!..besok?!..akh, tidak mungkin. Ada-ada saja…

Ya..ya..saya juga tahu bahwa respon yang akan saya dapati dari anda akan seperti ini. Tidak apa. Saya memaklumi. Toh memang ungkapan saya terdengar seperti omong kosong belaka. Tidakak jelas, dan basi. Tapi bagaimana jika saya katakan ke anda lagi, bahwa, “Besok anda akan benar-benar mati!”

Waaah, ketawanya malah makin keras. Semakin lucu, yah, ucapan saya ini? Saya serius, kawan. Dua-rius malah. Kok malah diketawai? Apa memang anda masih tidakk percaya kata-kata saya tadi? Saya memang bukan peramal, saya akui itu. Ya, sudah. Akan saya rubah lagi kata-katanya, “Anda besok akan benar-benar mati. Dan hal itu pasti akan terjadi!”. Bagaimana?.

Lho kok malah menatap begitu? Jawab doong…akh, masih tidak percaya juga ternyata. Baik..baik, tidak apa-apa. Wajar-wajar saja. Tapi bagaimana kalau saya bisa membuktikan dan bisa membuat semua itu terjadi. Bahwa besok anda akan benar-benar mati?!. Bagaimana?.

Lho kok malah bertanya bagaimana caranya. Mudah saja. Saya akan menyewa seorang preman untuk melakukan pembunuhan terhadap anda. Bagaimana? Sehingga apa yang saya katakan tadi akan benar-benar terjadi pada diri anda. Dan besok anda mati! Mati dibunuh oleh para preman suruhan saya. Bagaimana?...

Lho..lho..kok jadi malah marah-marah. Saudara jangan begitu, dong! Tadi saudara bilang bahwa saudara tidak percaya akan ucapan saya. Dan saya kemudian mencoba membuktikan bahwa apa yang saya ucapkan, adalah hal yang pasti akan terjadi. Kok, saudara jadi marah-marah begini sekarang?!

Eit! Eit! Jangan main kasar begini, dong. Tolong lepaskan tangan anda dari kerah baju saya. Kita bicara disini dengan santai dan baik-baik, kawan. Jadi jangan emosi begitu. Tadi anda saja menertawakan saya. Tapi saya tidak marah. Kok, malah sekarang anda yang marah-marah begini? Padahal apa yang saya ucapkan tidak merendahkan dan mengejek diri anda.

Naah..gitu, dong. Tenang sedikit. Tidak perlu pakai emosi.

Oke, akan saya ulang ucapan saya,”Besok. Besok pagi anda akan mati!”

Lho kok, sekarang anda diam,? Tadi anda tertawa. Tapi kenapa sekarang jadi diam begini? Masih marah sama saya yah?.

o-oh, anda sekarang menganggap ucapan saya ini tidak bermutu. Tidak penting. Tidak perlu dijawab atau didengar? Jangan begitu doong. Saya bicara serius disini. Tolonglah hargai apa yang saya katakan kepada anda. O-oh, anda masih marah juga ternyata.

Begini, kawan. Tidak usah ngambek begitu. Saya bicara apa adanya aja. Tidak ada satu manusiapun didunia ini mengetahui dengan pasti kapan mereka akan mati. Meskipun dia adalah seorang peramal sekalipun. bukan begitu, saudaraku? Ah, anda diam. Berarti anda setuju dengan apa yang saya katakan. Saya suka kalo anda sudah bisa sepaham dengan saya. Baik. Baik..

Jadi pertanyaannya, seperti awal saya katakan, “Anda akan mati besok?!” Bagaimana perasaan anda?. Ah, anda diam lagi. Sepertinya anda sudah mulai bisa menyimak dan mengerti apa yang saya katakan. Bagus..bagus..

Jadi bagaimana, saudaraku? Bagaimana jika besok pagi takdir anda adalah sebuah kematian yang tiba-tiba? Apakah anda siap?. Hehehe..saya mengerti dan memaklumi kalau anda tidak siap. Tapi itulah yang membuat saya merasa aneh pada diri anda. Bukankah anda mengetahui bahwa anda dan seluruh manusia dibumi tak ada yang mengetahui kapan kematian mereka itu akan tiba? Benar khan?. Tapi kenapa juga anda bisa tidak mengetahui, apa yang akan anda lakukan apabila hal itu terjadi pada diri anda?.

Huahaha!..tidak-tidak. Maaf kalo anda merasa tersinggung. Saya tidak menganggap diri anda bodoh dan saya juga tidak bermaksud untuk menggurui anda, kok. Saya sama seperti anda juga, saudaraku. Saya juga tidak tahu kapan saya akan mati. Dan saya juga merasa belum mempersiapkan apapun untuk kehidupan saya kelak. Di kehidupan itu.Kehidupan setelah kematian. hahaha!…

Saya tidak bermaksud untuk merendahkan anda. Sungguh! Saya hanya pengembara, saudaraku. Dan Anda sudah begitu baik mau menerima saya untuk sekedar melepas lelah di gardu ini. Dan untuk itu, saya sangat berterima kasih. Masa sudah jadi tamu yang dilayani dengan segelas kopi hangat, pisang goreng dan singkong yang enak. Saya malah menghina diri anda. Tidak..tidak, saudaraku. Bukan begitu maksud saya.

Ini hanya sekedar obrolan santai kita saja hari ini. Bagaimana? Sudah tidak marah lagi, khan?. Hehehe..terima kasih atas pengertian anda.

Apa?! Ooo..ya..ya, saya paham maksud anda. Memang kadang aneh, jika kita membicarakan tentang kematian itu. Suatu hal yang ghaib menurut saya. Anda dan saya sama-sama tidak mengetahui bagaimana rasanya hidup dikehidupan yang lain itu. Saya mengerti maksud anda.

Memang menakutkan kadang-kadang. Jika kita tidak mengetahui sesuatu hal yang seharusnya kita tahu. Membayangkannya saja susah sulit?! Ternyata pemikiran anda hebat juga, saudaraku. Anda ternyata bukan hanya seseorang yang menghabiskan banyak waktu dengan bersenang-senang dipos ini yah. Anda ternyata punya wawasan yang luas. Bagus..bagus..saya salut dengan anda.

Huahaha…! Bangga sekali anda ternyata dengan diri anda yah. Hahaha.. anda orangnya pede sekali ternyata. Saya suka itu! Baik..Baik.. Jadi bagaimana selanjutnya? O-oh, ya..ya.. saya ingat, mari kita lanjutkan. Ya, seperti saya bilang tadi. Saya, anda dan hampir semua manusia itu mengetahui, bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu akan datang. Bukan begitu? Oke anda setuju!

Dan benar bahwa bisa saja apa yang saya katakan tadi. Bahwa anda akan mati besok? bisa benar-benar terjadi. Betul?! Huahaha..Anda jadi ketakutan seperti ini, sih?! Hahaha!!..maaf..maaf, bukan maksud saya menakuti anda. Ini hanya permainan logika saja, kok. Khan tadi kita sepakat bahwa saya, anda dan semua orang ini tidak ada yang bisa mengetahui kapan kematian itu akan datang untuk kita. benar?

Nah! Jadi ucapan saya awal-awal tadi bisa saja terjadi toh?! Jadi omongan saya yang awal-awal tadi, bukan omong kosong, khan?! Hehehe..saya senang kalo anda bisa memahaminya sekarang. Bagus..bagus..

Itulah kenapa saya bisa begitu yakin mengatakan bahwa anda akan mati besok!. Dan apakah anda masih menganggap ucapan saya omong kosong sekarang? Hahaha..bagus..bagus. anda sudah paham sekali sekarang.

Ya, begitulah, saudara. Bisa jadi anda nanti pulang kerumah dan tidur. Tiba-tiba saja datang malaikat maut untuk menjemput anda. dan besok pagi, anda benar-benar mati. hayooo.. gimana coba?!..

Lho..lho..kok jadi ketakutan begitu. Tenang,saudaraku..Tadi anda menertawakan saya, karena menganggap omongan saya basi. Trus kemudian anda marah, trus sekarang anda malah jadi ketakutan begitu sih? Jangan begitu sodaraku. Santai aja. Kita hanya berbicara omong kosong yang tidak kosong sekarang ini..

Apa?! Ganti topik?! Lho.kok? Malah ganti topik pembicaraan sih?. Khan obrolan kita tentang kematian belum selesai. Anda belum saya ceritakan tentang alasan mengapa saya suka sekali mengembara, bagaimana sih?.

Ah, terima kasih kalau begitu. Maaf kalo saya jadi sedikit memaksa. Anda gak keberatan kalo kita lanjutkan obrolan kita? Oke..oke makasih atas pengertiannya.

Baiklah. Saya akan ceritakan kepada anda, mengenai alasan mengapa saya mau jadi seorang pengembara yang setiap saat selalu berpindah-pindah. Terus terang, nich. Saya ini seorang pecinta kematian. Hehehe..anda bingung?. Hahaha..tidak apa-apa. Santai saja.

Ya, saya memang orang yang sangat menyukai kematian. Saya pengagum berat dengan yang namanya kematian. Mau tau kenapa saya bisa begitu menyukai kematian?. Baik. Itu karena kematian adalah sesuatu hal yang paling indah dalam kehidupan ini. lho kok tambah bingung. Ini saya berkata benar, sodara.

Kematian itu adalah sesuatu hal yang sangat fenomenal, yang sampai saat ini. Belum pernah bisa dipecahkan misterinya oleh seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Sesuatu yang besar, namun selalu dianggap kecil oleh kita semua. Sesuatu yang benar namun kita tidak mempercayainya. Seperti anda tadi. Ya, anda. Bukankah anda tadi tidak percaya dengan apa yang saya ucapkan bahwa anda besok akan mati?!. Dan tiba-tiba setelah saya coba menjelaskan kepada anda, anda kemudian berubah pikiran dan malah jadi takut?..bukankan kematian itu indah sobat?.

Karena kematian itu adalah sebuah misteri, dan saya suka sekali hal-hal yang berbau misteri. Oleh sebab itu semenjak remaja saya selalu mencoba mencari tau bentuk dari kematian itu. dan akhirnya saya malah jadi sangat menyukai kematian itu lebih. Meskipun misterinya tetap akan menjadi misteri bagi saya.

Itulah sebabnya dahulu saya suka sekali membuat ekspreimen dengan memotong se ekor ayam. Hanya untuk melihat bagaimana sebenarnya kematian itu dirasakan oleh seekor ayam. Anda tahu?. Ternyata kematian itu menyakitkan, sodaraku. Percayalah. Itu sebab ayam ketika dipotong selalu menggelepar-gelepar kesakitan sebelum akhirnya dia mati tak bergerak…diam, kaku. Kematian itu me-nya-kit-kan!, sodaraku.

Lalu saya coba lagi dengan hewan-hewan lain, burung, kucing, kambing, kerbau dan sapi. Ternyata binatangpun sangat mengetahui bahwa kematian itu menyakitkan. Rata-rata respon yang saya lihat dari hewan yang saya sembelih menunjukan hal itu. Merekapun begitu menyukai dunia ini sebagaimana kita sebagai manusia. Anda pernah lihat seekor kambing menangis?. Akh, sayang kalo belum. Hewanpun menangis saat mereka tahu bahwa ajal mereka sudah dekat. Benar, sodaraku..saya saksikan sendiri kejadiannya. Seekor kambing yang menangis dan menjerit-jerit..embeeekk!..embeekkk!!… seolah mengiba kepada saya untuk dibebaskan..dahsyat sodaraku!..sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan buat saya.

Dan semenjak saat itu. Keingin tahuan saya bertambah. Saya mulai mengamati bagaimana kalau hal itu terjadi pada manusia. Makanya saya sekarang ini mengembara. Saya ingin menyaksikan detik-detik kematian manusia itu seperti apa?. Apa yang dirasakan oleh kita saat ajal itu datang menjemput?. Saya pernah lho, dengan tidak sengaja melihat seorang pengendara motor ditabrak sebuah mobil truk besar. Tapi truknya kabur waktu itu.

Iya, benar. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Saat tubuh sang pengendara motor itu terpental jauh berguling-guling sampai kesisi jalan. Adegan yang luar biasa. Seperti dalam film. Lho saya tidak mengada-ada, sodaraku. Ini benar.

Dan saat itu saya langsung berlari menghampiri pengendara motor yang tergeletak disisi jalan. Dengan posisi telentang tak karuan. Darah mengalir dari batok kepalanya, sampai menutupi sebagian wajahnya. Saya terkesima melihat pemandangan itu. saat itu saya hanya diam menatap sang pengendara yang tergeletak itu. anda tahu apa yang membuat saya tiba-tiba diam seperti itu?. saat itu saya melihat satu hal yang menakjubkan sodarku. Ya, satu hal yang selama ini ingin saya ketahui. Anda tahu apa itu?.

Baiklah. Jadi saat itu saya melihat bagaimana sang pengendara motor itu dengan nafas yang megap-megap seperti orang yang tenggelam dikolam. Tangannya mencoba menggapai-gapai kaki saya. Seolah meminta kepada saya untuk segera ditolong. Tapi saat itu saya diam. Karena saya terkesima melihat pemandangan itu. anda tahu apa yang terjadi kemudian?.

Saya mendapati kebenaran yang sama tentang kematian saat itu. anda masih ingat tentang ayam yang saya sembelih tadi?. bagus.. jadi saya melihat bagaimana kematian manusia itu terjadi saat itu. tubuh pengendara motor itu tiba-tiba seperti meronta-ronta, seketika kejang-kejang dengan darah yang dimuntahkan dari mulutnya. Dan seketika dia seperti orang yang kelojotan..tubuh meregang hebat. Dan suara terakhir yang saya dengar dari mulutnya adalah Hek!.hek!.seperti terinjak ribuan tronton dengan muatan penuh. Hek!..langsung berhenti…

Benar sodaraku. Ini benar-benar saya alami sendiri. Bagaimana saya bisa melihat sebuah kematian yang ternyata lebih menakjubkan dari kematian seekor binatang. Kematian manusia itu luar biasa sakitnya. Sa-kit sodaraku. Sepertinya begitu menyakitkan, seperti yang saya lihat saat itu.

Lho kok anda bilang saya sadis sekarang. Jangan begitu sodaraku. Itu hanya karena rasa keingin tahuan saya saja kenapa saya saat itu tidak berbuat apa-apa. E-eh,kok malah jadi menuduh saya gak waras, gila. Jangan dong. Kita lagi berbagi cerita apa adanya. Kenapa anda jadi sewot begitu sich?!..

Saya cerita apa adanya. Saya ini pencinta kematian. Saya pengagum kematian. Dan mungkin karena itu saya tidak melakukan apa-apa untuk menolong sang pengendara motor itu. karena saya sangat ingin melihat bagaimana rasanya kematian itu dirasakan oleh kita sebagai manusia. Dan ternyata luar biasa. Dan saya semakin menyukainya!. Huahaha…dahsyat sodaraku!..benar-benar dahsyat!. Kematian itu memang indah untuk dilihat dan dinikmati.

e-eh, mau kemana?. Sabarlah sebentar. Jangan kemana-kemana dulu. Cerita saya belum selesai. Ah, anda memang orangnya emosian ternyata. Suka menuduh sembarang. Tidak bisa menghormati tamu ternyata. Masa saya dibilang gak waras terus. Dibilang gila. Jangan begitu dong, sodaraku…

lho kok anda jadi sewot begitu?!..anda mau pergi?!..e-eh, mau keman sich buru-buru. Saya masih belum selesai bercerita tentang pengalaman saya mengembara, khan?. jadi.. diam disitu!!..

anda lihat belati yang sekarang menempel dileher sodara ini?!..anda bisa merasakan bagaimana tajamnya belati ini?..ya..ya, ini karena saya rajin mengasahnya setiap saat. belati ini juga yang saya pakai untuk menyembelih ayam dan binatang-binatang eksperimen saya. Dan anda tahu?. semenjak saya menyaksikan betapa kematian manusia itu begitu hebat dan luarbiasa. sejak saat itu, saya malah jadi sangat suka sekali melihat kematian yang dialami manusia.

Lho kok anda sekarang jadi gemetaran begitu?!..tenang saja. Tadi anda bawaannya emosi terus. Saya suruh tenang anda ngotot. Kok sekarang malah gemetaran begitu seperti anak kecil yang gak dikasih jajan?

Tahu tidak, sodaraku?.. pemandangan yang seperti anda inllah yang saya sukai dari kematian seorang manusia. Gemetar, panas dingin, ketakutan, sampai kadang terkencing-kencing. Mata melotot menahan geram tapi tak berdaya. karena belati saya yag tajam menempel dileher para korban saya. Bergerak sedikit saja, mereka bisa mati lebih dulu dari yang saya rencanakan. Seperti anda sekarang. Bergerak sedikit gegabah saja. Anda akhirnya akan sampai pada kebenaran ucapan saya awal-awal tadi. bahwa anda akan mati hari ini.

o-ooh, anda mengiba-mengiba untuk diampuni?. Lho kok minta ampun sama saya?. Saya khan bukan tuhan, sodaraku. Bagaimana sich anda ini sodaraku?.

Lha..lha…sekarang malah anda nangis. Gak malu apa?!. Tadi anda menertawakan saya, anda melecehkan saya, menganggap ucapan saya basi, gak mutu, gak penting, dan kemudian anda marah-marah, trus anda mulai mengerti, trus anda ketakutan, trus anda mengata-ngatai saya sebagai orang tidak waras,- orang gila, trus anda memohon-mohon seolah saya tuhan, trus sekarang malah menangis. Wah..wah..anda sungguh menyedihkan sodaraku.

Ya, sudah biar cepat, dan kebetulan hari sudah mulai pagi. kita percepat saat proses kematian anda, yach?!. Saya sudah pengen sekali menyaksikan kematian itu lagi sekarang..e-eeh, diam!!...gak bisa tenang sedikit apa!!...aaaah, bagus tenang begitu. Oooh, darah itu baru saja mengalir dari leher anda, sodaraku..

Bagaimana rasanya?!..apa?!..suara anda tidak jelas, sodaraku…

Ya..ya saya tau kalo anda sekarang percaya omongan saya. Toh memang benar khan?. kematian dalam hitungan detik akan terjadi pada diri anda. aah, saya suka ekspresi anda..saya suka!…kematian memang indah..sungguh indah!..huahahaha…..

Kau tahu, sodaraku..kau adalah korban yang ke 109. Yang memiliki kematian yang terhebat!. Saya suka anda!..hahaha…selamat menikmati kematian sodaraku, sakit bukan?!..

 


Tags : anda

              Older Posts

Next page - Random page - Previous page

              Blog Labels

pemuda - orang - anda
blog en dedi 28 panel a-z